Kasus Hak tanah Cebolok Gayamsari Semarang Makin Memanas

Semarang – Kilaspersada.com, Permasalahan warga Cebolok, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang yang menjerit, karena akan digusur oleh oknum yang diduga mengaku sebagai pemilik tanah tersebut, akhirnya terjawab.

Menurut Rohmadi, SH, M.H., kuasa hukum pemilik tanah Cebolok yang ditempati sejumlah warga tersebut menjelaskan, bahwa tanah Cebolok pemilik sebenarnya adalah Budiarto Siswojo, yang merupakan ahli waris dari Tjipto Siswojo, pemilik PT. Tensindo, Semarang.

Kepemilikan hak atas tanah tersebut, merupakan putusan incraht (keputusan berkekuatan hukum tetap, red) Mahkamah Agung (MA) tahun 2018, setelah melalui proses di pengadilan sejak tahun 2000-an dan proses banding hingga peninjauan kembali (PK) di tingkat Mahkamah Agung. Dengan putusan PK, No. Perkara 341 PK/PDT/2018, tanggal 23 Juli 2018.

“Kenapa ada proses banding dan PK? Karena kita memiliki novum atau alat bukti baru yang menguatkan, atas kepemilikan tanah yang ada di Cebolok tersebut. Jadi, pemilik sah atas tanah seluas 15,3 ha tersebut, adalah Budiarto Siswojo. Yang merupakan ahli waris dari Bapak Tjipto Siswojo,” jelas Rahmadi, kuasa hukum pengusaha dr. Setyawan, kepada awak media di warung makan, Senin, (28/12/2020).

Lalu, lanjutnya, tanah tersebut dikelola oleh dr. Setyawan untuk proyek property melalui PT. Mutiara Arteri Property (Grup), dasarnya adalah klausul perjanjian kerja bersama (PKB) antara Tjipto Siswojo (Pemilik tanah) dan dr. Setyawan dalam pengelolaan atas tanah tersebut.

“Jadi alas bukti hukum, dr. Setyawan, dalam mengelola tanah tersebut jelas. Yaitu klausul kerjasama antara pemilik tanah dan pengembang property (developer, red),” imbuhnya.

Dijelaskan pula oleh Rahmadi, bahwa dalam proses pengosongan lahan/tanah di Cebolok, Semarang, pihaknya menggunakan pertimbangan kemanusiaan. Artinya, yang mendiami tanah tersebut diberikan tali asih untuk mengosongkan atas bangunan yang didirikan di atas tanah milik Budiarto Siswojo tersebut.

“Atas dasar kemanusiaan, kita kumpulkan warga dengan membentuk tim pada bulan November 2020 lalu. Yg terdiri dari perwakilan warga, perangkat desa dan instansi terkait. Jumlah tali asih bervariasi nilainya. Tim yang telah dibentuk yang menentukan rupiahnya. Dan sebagian besar warga sudah menerimanya,” tutur Rohmadi.

Untuk proses selanjutnya, imbuhnya, antar kuasa hukum pengembang dan kuasa hukum warga akan difasilitasi oleh pemerintah untuk dimediasi di kantor kelurahan Sambirejo pada Senin (28/12/2020) kisaran jam 19.00 Wib malam. ( Poerbledek’s)