Pati – Kilaspersada.com, Pengolahan sampah sampai hari ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi warga, utamanya di kota-kota besar. Padahal setiap harinya, volume sampah terus bertambah. Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2019 menyebutkan, timbunan sampah di seluruh Indonesia mencapai 67 Ton sampah organik yang mencapai sekitar 60 persen dan sampah plastik yang mencapai 15 persen.
Kebanyakan sampah rumah tangga berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Selebihnya hanya dikubur untuk dijadikan kompos, didaur ulang atau dibakar. Untuk mengolah sampah sendiri memang perlu teknologi yang mahal dan dengan cara yang agak rumit.
Namun tenang saja, kini telah tejadi perubahan metode mengolah sampah organik dengan cara yang lebih sederhana dan dengan biaya murah. Hebatnya, cara memproses sampah ini tidak butuh teknologi mahal. Yang dibutuhkan hanyalah serangga.
saat ini cara memproses sampah berbasis serangga memang tengah dikembangkan. Dengan program biokonversi, kandungan nutrien yang ada di dalam sampah organik dapat dikonversi menjadi nutrien bentuk lain yaitu biomassa magot.
Biokonversi ini mampu mengolah sampah organik dalam waktu yang lebih cepat dan biaya murah. Selain itu program ini mudah diterapkan oleh siapa saja dari berbagai kalangan. Dan yang lebih penting, produk yang dihasilkan mempunyai nilai ekonomi.
Rudi Brigianto Direktur garuda food Pati menyampaikan “Program CSR kali ini harus mampu menjadi pilot porject pengelolaan magot yang belum begitu banyak di kenal oleh masyarakat. Karena mulai dari makanan bekas magot, magot, dan urine magot dapat di manfaatkan sebagai pakan ternak dan pupuk”, tutur Rudi.
Sebagai pelaksananya, Ketua Umum Karang Taruna Kabupaten Pati, Saiful Arifin, menunjuk Karang Taruna SABANUSA Desa Ngablak dan Karang Taruna Desa Sokobubuk Kecamtan Margorejo sebagai penerima CSR dari PT. Garudafood Putra Putri tbk.
Untuk tahap awal, Karang Taruna SABANUSA Desa Ngablak sudah memulai usaha pembudidayaan tersebut.
Ketua Karang Taruna Sabanusa Ngablak Tatak Tri S, menuturkan kepada awak media bahwa “Pembudidayaan seperti ini merupakan jalan alternatif pakan ternak yang cukup murah. Magot juga mengandung protein yang cukup tinggi”, jelas Tatak.
Ketua Unit Pengelola Sampah Organik Karang Taruna Sabanusa, Andang Gigih W, menambahkan bahwa “Maggot adalah solusi penanganan sampah organik yang sangat efesien dan efektif, karena tidak menimbulkan bau, zero waste, dan bisa menghasilkan pakan ternak dan pupuk. Untuk uji coba, kami terapkan pada pembesaran lele dengan menerapkan kombinasi pelet dan maggot”, pungkasnya.
(Mkg/As)
No comments yet.