
(Bupati Klaten,Hj Sri Mulyani saat stikerisasi program PKH di salah satu warga)
Klaten – Kilas persada.com, Program pengentasan kemiskinan, yang digulirkan oleh Pemerintah Kabupaten Klaten ,dengan stikerisasi rumah warga Keluarga Penerima Manfaat (KPM), dimaksudkan bukan untuk memberi stigma keluarga miskin. Stikerisasi yang dilakukan oleh Bupati Klaten, Sri Mulyani, di Gabugan, Ngawen, Klaten, menjadi doa agar penerima KPM yang ada di Klaten,cepat terangkat dari kemiskinan,dan menjadikan keluarga yang mandiri, dan sejahtera.
Stiker berwarna merah itu, ditempelkan di daun pintu atau kaca jendela rumah penduduk. Stiker itu bertuliskan keluarga miskin, dengan jenis bantuan sosial yang diterima. Jenis bantuan sosial itu meliputi Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat (KIS), Aslut dan ASPDB, berikut nama dan alamat penerima program. Di baris terbawah ditulis doa yang indah “Semoga Keluarga Ini Segera Sejahtera”.
Doa bagi warga penerima KPM itu, ditegaskan Bupati Sri Mulyani, disela-sela penempelan stiker, di salah satu rumah warga Gabugan, Ngawen, Klaten. didampingi Kepala Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB) MUh Natsir, dan sejumlah pejabat Senin kemarin.
“Kami menempelkan ini (stiker KPM) bukan ingin membuat stigma. Sebab di dalamnya tertera kalimat doa, yakni semoga keluarga ini cepat sejahtera. Harapannya dengan kalimat itu bisa menjadi doa dan motivasi untuk semangat bekerja,” jelas Sri Mulyani.
Manfaat program PKH dirasakan Siwi Dwi Kusrini (44) warga Duwetan, Candirejo, Ngawen, Klaten. Perempuan dua anak yang berprofesi sebagai penjual kelapa di Pasar Induk Klaten itu kini memilih mengundurkan diri dari program PKH. Berkat program pengentasan kemiskinan itu, dia bersama suami kini bisa hidup mandiri.
“Saya diikutkan program PKH, sejak tahun 2013. Kini saya memilih mengundurkan diri, dari program tersebut. Saya Usaha jual beli kelapa, dan jasa parut kelapa, sudah cukup untuk menopang hidup saya. Sehari rata-rata saya bisa menjual 100 – 120 butir kelapa. Alhamdulillah sekarang saya bisa hidup mandiri,” jelas Siwi.
(Pur/Red)
No comments yet.